Ma'badong

Tarian upacara dari Toraja, Sulawesi Selatan yang diadakan pada upacara kematian.

Landscape Perkampungan di Toraja

Rumah adat tongkonan dan Lumbung yang berjejer membentuk suatu kesatuan yang indah dipandang mata.

Pesta Kembang Api di Bundaran Kolam Makale

Acara ini diadakan setiap tahun bersamaan dengan Lovely December.

Tengkorak Kepala Manusia di Ke'te Kesu

Pemandangan ini bisa di temukan di beberapa tempat di Toraja salah satunya di ke'te kesu, Rantepao.

Adu Kerbau "Tedong Silaga"

Acara ini bagian dari ritual adat rambu solo " Upacara Kematian " dan merupakan acara yang paling seru.

Thursday, 30 April 2015

Objek Wisata Sangalla' Tana Toraja

1. Kuburan Batu Suaya/ Kuburan Raja-Raja Sangalla'


Kuburan pada tebing di Suaya
SUAYA adalah kuburan Raja-raja Sangalla. Kuburan ini berada di satu sisi dinding bukit cadas yang dipahat dan dibentuk kantung-kantung. Patung-patung (tau-tau) para raja dan keluarga raja diberi pakaian seperti pakaian saat mereka hidup dulu.
Lokasi situs pemakaman gua suaya terletak 23 kilometer di sebelah selatan kota Rantepao atau 10 kilometer sebelah barat kota Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Indonesia.

Gua-gua itu terletak cukup tinggi dari permukaan tanah. Sebagai tempat bersemayamnya raja, masyarakat sekitar telah menjadikannya tempat ziarah rutin. Sebagaimana tradisi mereka yang sangat menghormati orang-orang besar dan para leluhur. Tersedia tangga batu yang memudahkan wisatawan untuk melihat-lihat ke dalamnya.
Warga sekitar menyebutkan, tangga batu itu sudah ada sejak raja-raja itu masih hidup. Digunakan oleh para raja Sangalla untuk menyendiri dan melakukan semacam pertapaan. Banyak peninggalan para raja, termasuk pusaka-pusaka.


2. Kuburan Tampang Allo

Makam bangsawan Sangalla yang bergama islam
Hampir sama dengan situs makam kuno yang kita temui sebelumnya. Di situs ini terdapat banyak makam gantung, peti mati, tengkorak dan tulang belulang yang berserakan. Yang membuatnya unik adalah kisah “sehidup semati, satu kubur kita berdua” dari Sang penguasa Sangalla dan istrinya.
Dalam sejarahnya diceritakan bahwa dahulu, sekitar abad ke-16, penguasa Sangalla’ (Sang Puang Manturino) bersama istrinya (Rangga Bulan) memilih Gua Tampang Allo sebagai tempat pemakamannya kelak jika mereka meninggal dunia.
Namun, Rangga Bulan meninggal lebih dahulu dan jenazahnya dimasukkan dalam erong serta diletakkan dalam gua Tampang Allo. Dan ketika Sang Puang Manturino meninggal, erong tempat jenazahnya justru ditempatkan di pemakaman Losso, yang letaknya tidak jauh dari Tampang Allo.
Singkat cerita, jenazah Sang Puang ternyata menghilang dari erongnya dan saat ditemukan, jenazahnya telah bersatu dengan jenazah istrinya di Tampang Allo.
Demikianlah bagaimana kisah ini akhirnya mengilhami masyarakat setempat yang menyepakati bahwa Gua Tampang Allo adalah perwujudan perjanjian dan sumpah suami istri.

3. Museum Buntu Kalando
Tongkonan yang dijadikan Museum Buntu Kalando
Museum Buntu Kalando diresmikan pada tanggal 29 Juli 1980. Pendirian museum ini adalah atas anjuran beberapa tokoh masyarakat agar beberapa benda-benda peninggalan budaya yang bernilai sejarah mempunyai wadah sebagai tempat pemeliharaan dan perawatan dalam rangka pelestarian budaya nasional. Fungsi lain dari museum ini adalah sebagai pusat pelayanan masyarakat adat.
Koleksi museum Buntu Kalando berjumlah 701 terdiri dari koleksi geografi, arkeologi, numismatik/ heraldik, keramik, dan seni rupa.
Museum Buntu Kalando, yang merupakan bekas istana Puang Sangalla, terletak di lembang (desa) Kaero, kecamatan Sangalla, kabupaten Tana Toraja. Jaraknya tidak jauh, hanya sekitar enam kilometer dari kota Makale, ibukota kabupaten Tana Toraja. Jika menggunakan kendaraan roda empat, anda hanya membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam untuk sampai di tempat itu.

4. Kolam Alam/Danau Assa 

Kolam alam yang masih sangat alami

Foto: semaniskopi.blogspot.com
Kolam Alam Assa merupkan sebuah danau kecil yang terbentuk secara alami yang menyugukan pemandangan yang indah dan suasana yang masih sangat alami dan segar. Kolam alam ini hanya ketahui oleh sebagian kecil orang toraja karena masih luput dari perhatian pemerintah Tana Toraja. Kolam ini hampir sama dengan kolam alam Limbong di Rantepao menyimpan banyak mitos dan cerita.
 
5. Permandian Air Panas Makula


Kolam Air Panas Makula
Makula’ terletak ± 12 km dari Makale di Kecamatan Sangalla’ Selatan. Ada mata air panas dengan kolam untuk berendam. Menurut kepercayaan masyarakat, airnya bisa menyembuhkan penyakit kulit. Terdapat tiga sumber air panas di Makula yang letaknya saling berdekatan. Di sekitar mata air itu, berdiri  rumah peristirahatan. Pengelolanya sengaja menyediakan kolam-kolam untuk menampung air panas yang dialirkan dari sumbernya. Sambil menikmati keindahan alam di Sangalla, wisatawan dapat berendam air hangat sepuasnya.
Air panas itu muncul dari batu gamping dan batu pasir yang mendominasi struktur tanah Sangalla. Temperatur tertinggi air itu 43,6 derajat celcius pada temperatur udara 22,1 derajat celcius. Sumber panas diperkirakan berasal dari kantung magma di bawah Bukit Kaero. Energi panas merambat melalui bebatuan.

6. Kuburan Bayi/Baby Grave Kambira


Kuburan Bayi Pada Pohon
Baby Grave-Kambira, terletak di Desa/Lembang Buntu, Sangalla, Tana Toraja. Sebuah kuburan bayi (pasilliran) dimana jenazah bayi tidak diletakkan di dalam tanah ataupun di dalam gua, melainkan pada sebatang pohon kayu yang besar dengan diameter sekitar 80-100 meter, yang usianya kurang lebih sudah 300 tahun.
Proses penguburannya pun tidak mudah, semuanya harus melalui ritual terlebih dahulu. Dan menurut cerita, selama proses adat ini berlangsung, semua yang hadir tidak boleh berbicara, menoleh ke kiri/kanan ataupun ke belakang.
Larangan ini baru berakhir ketika pa’piong (makanan khas Toraja, dimana daging dimasak di dalam bambu) sudah dipotong.
Suku Toraja yang menganut kepercayaan Aluk Todolo menganggap bahwa bayi yang belum tumbuh giginya dianggap masih suci. Sedangkan pohon Tarra’ dipilih karena memiliki banyak getah yang dianggap sebagai pengganti air susu ibu.
Mereka percaya bahwa cara ini sama halnya seperti mereka mengembalikan bayi-bayi ini ke rahim ibunya. Dengan begini, mereka akan menyelamatkan bayi-bayi yang lahir kemudian.

7. Gua Alam Sullukan
Foto ilustrasi
Gua Alam Sullukan merupakan Goa Alam yang terletak di Kecamatan Sangalla Selatan berjarak 24 Km dari Rantepao dan 12 Km dari Makale kurang lebih  100 meter sebelum Permandian Air Panas Makula. Goa ini terletak tepat di pinggir sungai kecil jadi untuk mencapainya harus melewati sebuah sungai kecil. Untuk masuk kedalam goa ini di butuhkan penerangan yang cukup karena kondisi goa yang sangat gelap. Berbeda dengan goa lain di Toraja dalam goa ini tidak digunakan sebagai kuburan sehingga tidak ditemukan tengkorak manusia,  hanya stalagtit dan talagmit yang dapat kita jumpai. Sayangnya goa alam ini belum dikelola dengan baik oleh pemerintah sehingga belum dikenal oleh banyak orang.

8. Kuburan dan Gua Alam Sakpak Bayobayo
Lubang gua yang dalam

Lo'kok bekak

Lo'kok ne' pendang

Sumur keramat

Sungai tempat bermuara gua.
Kuburan dan Goa Alam sakpak bayobayo merupakan sebuah situs yang masih sangat alami akan tetapi menyimpan cerita dan mitos yang sangat menarik. Pada Gua alam ini terdapat 4 buah Lubang Gua (Lo'kok)  yaitu Lo'kok Ne' Pendang, Lo'kok Tarru, Lo'kok Bekak, Lo'kok Kalumpini.   Air dari sebuah sungai kecil masuk kedalam sebuah lubang yang besar  dan akan muncul di sebuah sungai yang jaraknya beberapa ratus meter jauhnya yang dipisahkan oleh sebuah gunung batu. Banyak cerita dan mitos yang yang muncul dari goa ini entah benar atau tidak Jika ada sebuah benda baik itu berupa ranting ranting pohon atau apapun yang terbawa arus air yang masuk kedalam lobang goa tersebut tidak akan pernah ditemukan muncul di sungai tempat bermuara air tersebut dan air yang muncul di muara tersebut tidak pernah tercemar. Di Sakpang bayo bayo terdapat sebuah sumur  keramat yang terletak di pinggir sungai yang menjadi muara goa tersebut,menurut cerita jika seekor burung terbang tepat di atas sumur tersebut dan bayangan (Bayo Bayo) dari burung  melitasi sumur maka entah apa yang menyebabkan burung itu langsung jatuh kedalam sumur, Secara logika ini mungkin sulit di terima tapi cerita inilah menjadi asal nama Sakpang Bayo Bayo "Bayangan".

Itulah beberapa objek wisata di wilayah Sangalla kabupaten Tana Toraja dan beberapa objek wisata masih sangat alami dan belum tersentuh bahkan belum dikelola oleh pemerintah.
Semoga informasi ini bermanfaat.