Ma'badong

Tarian upacara dari Toraja, Sulawesi Selatan yang diadakan pada upacara kematian.

Landscape Perkampungan di Toraja

Rumah adat tongkonan dan Lumbung yang berjejer membentuk suatu kesatuan yang indah dipandang mata.

Pesta Kembang Api di Bundaran Kolam Makale

Acara ini diadakan setiap tahun bersamaan dengan Lovely December.

Tengkorak Kepala Manusia di Ke'te Kesu

Pemandangan ini bisa di temukan di beberapa tempat di Toraja salah satunya di ke'te kesu, Rantepao.

Adu Kerbau "Tedong Silaga"

Acara ini bagian dari ritual adat rambu solo " Upacara Kematian " dan merupakan acara yang paling seru.

Tuesday, 23 December 2014

Rama Widi Putra Toraja Yang Mendunia Dengan Musik Harpa


Rama Andika Widi atau Rama Widi adalah seorang pemain harpa pria pertama di Indonesia. Rama Widi adalah putera Toraja dari mantan Wakabareskrim Polri Bpk. Mathius Salempang dan Ibu Fifi.  
Tahun 2004 Rama mulai belajar harpa dan serius mendalaminya di Vienna Konservatorium, Austria dibawah bimbingan Julia Reth salah seorang maestro harpa dunia. Denting dawai harpa yang lembut dan tegas telah menyentuh hati Rama yang mulai belajar musik harpa sejak usia 6 tahun.
Rama Widi seorang pemain harpa pria pertama di Indonesia

Harpa memang alat musik yang belum terlalu dikenal masyarakat indonesia pada umumnya. Pada tahun 2007, ia menjadi orang Indonesia pertama yang bermain di gedung opera Vienna, Austria dan Budapest, Hongaria. Juli 2007, ia menjadi salah satu artis di Vienna Jazz Festival yang salah satunya mendapat sambutan paling meriah dari para penonton 
Musisi musik klasik Indonesia ini telah belajar selama 10 tahun di Austria. Prestasinya di negara tetangga pun ternyata mengagumkan, mengingat terpilihnya ia sebagai dosen Mahidol University, Thailand. Pria kelahiran Jakarta, 31 Agustus1985 ini pun diklaim sebagai pemain harpa pria pertama di Indonesia.
”Sejak 2005 saya selalu mengadakan konser di Indonesia setiap tahun dan mengunjungi beberapa SMP dan SMU untuk mengenalkan harpa. Alat ini bisa main genre musik apa saja, baik jazz, pop, bahkan dangdut," kata Rama.
Diakui Rama, harpa memang identik dengan kaum perempuan karena yang memperkenalkan alat musik tersebut ke Indonesia adalah perempuan. Namun, bila dilihat dari sejarah, kebanyakan pemain harpa adalah lelaki.
Sejak kecil, Rama dikenalkan berbagai alat musik oleh orangtuanya, seperti organ, biola, dan harpa. Hal itu membuatnya serius belajar memainkan alat musik sehingga memutuskan untuk berkuliah di Austria, negara yang banyak mencetak musisi-musisi kenamaan, selama 10 tahun. Rama akhirnya memilih mendalami harpa karena masih sedikit pemain harpa yang sukses di Indonesia.
”Dari awal saya suka musik karena hobi dan bunyinya yang indah. Awalnya belum memutuskan untuk mendalami harpa. Awalnya mau mendalami conducting, tapi enggak diterima. Akhirnya saya mencari instrumen yang belajarnya cepat dan perkembangannya juga cepat. Tadinya bingung, antara harpa dan kobo. Pemain kobo sudah banyak, pemain harpa masih sedikit. Di Indonesia cuma tiga waktu itu, jadi aku berpikir mau jadi orang keempat," ungkapnya.
Menurutnya, tingkat kerumitan dalam memainkan harpa adalah pada bagian pedalnya. Butuh pendalaman yang lebih guna menghayati dan mendapatkan irama yang indah. Kini, mimpi Rama adalah menjadi solois harpa profesional.
Rama mulai belajar harpa dan serius mendalaminya di Vienna Konservatorium, Austria sejak 2004, di bawah bimbingan Julia Reth --salah seorang maestro harpa dunia. Ia menjadi orang Indonesia pertama yang memainkan alat musik di Vienna Jazz Festival pada tahun 2007.
"Impian terbesar mau jadi solois pemain harpa. Karena, saat ini yang jadi solois itu penyanyi, pemain biola, atau piano. Sementara harpa masih jarang. Maka usai selesaikan pendidikan di Austria, saya kembali ke Indonesia. Namun tak lama kemudian harus pergi lagi ke Thailand untuk mengajar harpa di Mahidol University," ungkap Rama.
Berkat bakatnya memainkan harpa, Rama sudah berkeliling dunia, mulai dari Eropa hingga Tiongkok dengan Symphonia Vienna Orchestra. Tahun 2007. Ia bahkan sempat menggelar konser solo di Arkadenhof Rathaus, Wina. Tahun 2012 lalu, Rama terpilih sebagai kontestan di ajang kompetisi harpa paling bergengsi di dunia yakni Opera Vienna Orchestra di Baden, Jerman.


Rama Widi di depan bus milik keluarganya
Selain sibuk dalam dunia musik khususnya musik harpa, putra kelahiran 29 tahun yang lalu ini juga ikut berperan dalam mengelola  PO Bus Manggala Trans milik Bpk Matius Salempang.

Sumber:
https://www.facebook.com/ramawidi
http://www.ramawidi.com/

Monday, 22 December 2014

Cara Menghapus Malware Gadis Mabuk di Facebook


Ketika anda pernah mengklik video seperti gambar diatas dan akun facebook anda membagikan dan mentag teman facebook anda pada  video “Wanita Mabuk Setelah Pesta” berarti komputer/laptop/browser Anda sudah terinfeksi Malware. 
Malware ini adalah sejenis virus yang memanfaatkan korbannya dengan cara autotag. ketika anda mengklik video tersebut anda akan di alihkan ke sebuah link palsu mirip youtube yang akan menyimpan sebuah plugin/ekstensi yang akan terinstal pada browser anda sehingga secera otomatis akan menyebarkan video dengan cara autotag.


Menurut perusahaan keamanan jaringan Vaksincom, tim keamanan Facebook tidak mampu berbuat apa-apa karena malware tersebut tidak memanfaatkan aplikasi dalam Facebook sendiri. Malware tersebut menyebarkan diri melalui extension yang biasanya ada di peramban.

Sebelumnya malware ini hanya menyerang browser Crome tapi saat ini Mozila firefox sudah mulai terserang. Malware ini merupakan varian kedua dari Malware sebelumnya dengan judul, “Gadis Mabuk Setelah Pesta“. Lalu bagaimana cara bersihkannya?

Buka browser Firefox Anda, terus ketikkan di address bar “about:addons” (tanpa tanda kutip)
Pilih “Extensions” dan cari file inject dengan nama “Fullscreen 4.0” (lihat gambar) Wanita Mabuk Setelah Pesta di Facebook Hapus extensi “Fullscreen 4.0″ tersebut dan restart Firefox And.



Bila browser Anda Chrome, maka cara mudah untuk membersihkan malware ini adalah dengan menghapus esktensi tersebut, caranya:

- Buka browser Chrome Anda dan ketikkan di address bar “chrome://extensions”.
   >gadis mabuk setelah pesta
- Jika extensi malware tersebut Ada di browser Anda, maka Anda akan melihat gambar seperti ini.



-   Untuk menghapusnya, klik icon Trash (delete), dan bila sudah hilang restart kembali Chrome Anda dan malware pun sudah hilang dari komputer Anda.

Semoga Bermanfaat

Wednesday, 10 December 2014

Raja Terakhir Sangalla' "Puang Sangalla"


Salah satu bukti autentik dari sisa-sisa kejayaan sistem pemerintahan kepuangan itu, kini masih tersimpan dengan baik di museum Buntu Kalando, Lembang Kaero, Kecamatan Sangalla, Tana Toraja.

Puang adalah sebutan lain dari raja, yang artinya orang yang memiliki kekuasaan, kebijaksanaan, berasal dari kalangan rulling class, dan mampu memimpin, serta mengatur keteraturan hidup dalam masyarakat.

Di masanya, Puang Sangalla, yang bernama asli Laso’ Rinding, dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana, kuat, cerdas, dan memiliki darah bangsawan Sulawesi Selatan.

Menurut keturunan Puang Sangalla, Puang Edi Sombolinggi, yang saat ini diberi kewenangan mengurus museum Buntu Kalando, antara kerajaan Gowa, Bone, Kedatuan Luwu, dan Kepuangan di Sangalla, memiliki hubungan historis dan kekerabatan yang sangat erat.

Keempat wilayah kerajaan ini berasal dari keturunan yang sama, yakni Lakipadada (Karaeng Bajoe) dan Batari Lolo, yang berasal dari Gowa. Lakipadada memiliki empat anak, masing-masing Patta La Mera (yang kemudian menjadi penerus kerajaan Gowa), Patta La Bunga (penerus kedatuan Luwu), Patta La Bantan (kepuangan Sangalla), dan Patta La Didi (penguasa kerajaan Bone).

Hubungan keempat bersaudara inilah yang dikenal dengan istilah: Sombae ri Gowa, Pajuang ri Luwu, Matasak ri Sangalla, dan Mangkau ri Bone. Keempat bersaudara ini juga dikenal dengan nama tallu pocoe, appa pada-pada, yang artinya tiga saudara laki-laki dan satu saudari perempuan.

''Keempatnya memiliki hubungan yang sangat erat satu sama lain,'' kata Puang Edi.

Sistem pemerintahan adat dari kepuangan Sangalla dimulai sekitar tahun 1925. Saat itu, istana, yang saat ini sudah dijadikan museum itu, masih berbentuk bangunan tembok, beratap bambu, mirip dengan istana Datu Luwu di Luwu.

Pada masa penjajahan Belanda, istana Puang Sangalla ini dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan pusat penerangan masyarakat.
Pemimpin di kepuangan Sangalla dipilih oleh masyarakat setempat.
Fungsi Buntu Kalando sebagai pusat pemerintahan mulai berubah saat penjajahan Jepang memasuki wilayah Tana Toraja, sekitar tahun 1942. Saat itu, pemerintah Jepang menghapus atau mengganti semua pemimpin adat eks pemerintahan Belanda, dengan pemimpin yang diinginkan oleh Jepang. Tetapi pusatnya tetap di Buntu Kalando.

Saat Indonesia merdeka tahun 1945, fungsi pemerintahan benar-benar diambil alih oleh pemerintahan Republik Indonesia, yang artinya untuk jabatan seperti bupati atau camat, ditunjuk langsung oleh pemerintah, bukan lagi dipilih oleh masyarakat adat setempat.
Fungsi kepuangan Sangalla hanyalah mengurusi masalah pemerintahan adat.
''Istana ini pernah roboh pada tahun 1960 tetapi dibangun kembali dan diganti dengan bangunan Tongkonan,'' ujar Puang Edi.

Menurut Puang Edi, pada tahun 1969, sebelum Puang Sangalla, Laso’ Rinding, meninggal dunia, dia berpesan agar jasadnya tidak dipindahkan, dia ingin beristirahat di tempat itu.
Keluarga besar Puang Sangalla lalu mengganti istana itu dengan bangunan Tongkonan, yang lebih berciri dan mengakar di Toraja.

Tahun 1970, almarhum Puang Sangalla diupacarakan (Rambu Solo’) di tempat itu, dengan upacara yang sangat besar dan meriah.
Upacara pemakaman Puang Sangalla ini tercatat sebagai yang paling akbar di Tana Toraja.

Berikut ini Video Pemakaman Puang Sangalla yang ditayangkan oleh National Geographic